“Mau kemana pak?” Saya bertanya kepada 2 orang yang terlihat sedang mengamati perkebunan teh, sepertinya sedang mencari-cari sesuatu.

“Oh engga mas, ini lagi lihat-lihat tempat yang cocok untuk kemah.” Saya mengamati mereka, seorang terlihat bijak dan seorang lagi terlihat agak angkuh, yang menjawab pertanyaan saya pria yang terlihat bijak.

“Darimana pak?” Tanya saya lagi.

“Dari Bekasi,” Jawabnya.

“Oh sama dong, kita juga dari Bekasi, Bekasinya dimana pak?” Saya mulai penasaran.

“Saya di cikarang”, jawabnya.

“Wah,,dekat dong,,saya juga di cikarang.”

“Wah,,jangan-jangan kita tetanggan,,hihihi.” Teman saya ikut bertanya.

Tiba-tiba seorang pria yang terlihat angkuh langsung memberondong kami dengan banyak pertanyaan.

“Oh, tinggal di cikarang,,cikarangnya dimana?Kecamatan apa?Kelurahan apa?RT/RW berapa?Kenal sama ini engga,,kenal sama si itu engga”

Kami sedikit kaget dengan rentetan pertanyaan yang diajukan pria tadi, seperti kami sedang di interogasi, seperti kami sedang melakukan kesalahan. Dalam hati kami, Ini orang kenapa, apa mungkin karena dia pria berseragam, jadi dia merasa hebat dan merendahkan kami. Atau mungkin memang seperti itu mindsetnya, tiap ada orang bertanya dia balik lagi dengan pertanyaan yang menjengkelkan orang yang ditanya, tapi ya sudahlah, kami kesini untuk menikmati hari kami.

Perjalanan memang tidak selalu sesuai seperti yang kita inginkan, pasti ada aral yang kadang datang dan pergi begitu saja ketika kita sabar menghadapinya. Jadi pengalaman yang menjengkelkan yang kami alami tidak membuat kami kehilangan semangat untuk terus mengayuh pedal sepeda kami.

Cijalu, akhirnya kami kembali lagi untuk menikmati indahnya alam yang begitu sejuk dan mempesona. Setelah menempuh perjalan kurang lebih 4 jam dari cikarang, akhirnya kami sampai di pintu gerbang Cijalu. Seperti perjalanan sebelumnya, kami mulai mengayuh sepeda di gerbang masuk menuju kawasan wisata Curug Cijalu. Agak pagi dari sebelumnya, udara segar masih bisa kami rasakan. Ditemani segelas teh manis dan uli bakar, membuat energi dan semangat kami bertambah.

Pedal mulai kami kayuh menyusuri jalan perkampungan, jalan agak lebar, bisa dilalui 2 kendaraan roda empat sekaligus. Ada yang sedikit berbeda dari jalan yang kami lalui sebelumnya, karena sekarang ini jalan sudah di aspal.

Jarak 1-2 km trek yang kami lalui masih lurus, belum ada tanjakan yang terlihat. Wajah kami masih terlihat sumringah dan gagah.

Mulai jarak 3 km, trek sudah mulai menanjak, pedal mulai terasa berat dikayuh, irama detak jantung kami mulai bersuara. Trek menanjak yang panjang, hanya ada 2 cara untuk melewati trek menanjak yang panjang bagi pesepeda seperti kami (bukan profesional), oper gigi ke posisi terendah dan jalan sangat perlahan-lahan atau perlakukan sepeda antara dengan sangat romantis, pegang tangannya dan tuntun, ajak dia berjalan perlahan-lahan, tapi ingat kawan, hanya dipegang tangannya dan di ajak jalan, jangan di ajak ngobrol, karena fatal akibatnya, orang-orang akan menertawakan,,hihihi.

Tidak perlu gengsi untuk mendorong sepeda kalian jika memang tenaga dan nafas dirasa tidak kuat, karena kita bersepeda untuk sehat, bukan untuk sakit. Kenali kemampuan kalian, jangan memaksakan diri, karena kita bukan profesional.

Udara makin ke atas makin segar, makin menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Walaupun tertatih, kami sangat menikmatinya.


Akhirnya sampai juga di spot yang kami anggap sungguh menarik dan indah untuk mengabadikan momen kebersamaan kami, Kebun teh.

Perjalanan menuju ke curug Cijalu hampir sampai, tetapi ada yang menggangu fokus kami. Terlihat dipinggir jalan jejeran nanas yang berbaris seperti memanggil kami. Kami berhenti, mulai mengamati dan membanyangkan segarnya manisnya buah yang menjadi kebanggan orang Subang, Nanas madu.

Karena mobil yang membawa kami pulang tidak bisa parkir di area wisata curug Cijalu, maka kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan. Jalanan berbatu dan sedikit rumput disisi kanan kiri jalan.

Akhirnya sampai juga kami di curug Cijalu, hmm,,udara semakin dingin, gemerik air terjun sungguh menyegarkan pikiran. Sebelum mandi, perut yang kosong perlu di isi, seperti biasa, agar menguatkan rasa kebersamaan dan solidaritas, kami makan bersama-sama sambil sesekali bercerita.

 Curug Cijalu di bulan oktober debit airnya tidak terlalu banyak, karena pada bulan ini masih musim kemarau, tetapi cukup untuk mandi dan melepas lelah. Air terasa sangat dingin bagi kami yang biasa tinggal di daerah panas. Sungguh seger dan membuat perasaan ini terasa senang.

Curug Cijalu berada di perbatasan Subang dan Purwakarta, sehingga seringkali orang menyebutnya Curug Cijalu Purwakarta, tetapi sebenarnya curug Cijalu berada di daerah Subang, tepatnya di Desa Cipancar, Kecamatan Sagala Herang, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat.

Jadi untuk kawan-kawan Goweser yang mempunyai agenda gowes keluar kota yang tidak terlalu jauh, Curug Cijalu sangat direkomdasikan, karena karena alam sekitarnya yang sejuk, air terjunya juga indah dan segar.

Salam hangat dari sobat Ecek2 Bikers.

Cikarang 15 Desember 2018.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *