Saung Ranggon terletak di Kampung Cikedokan, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, dengan keletakan pada 107º 0′.204″ BT  dan  06º 20′ 298″ LS , serta ketinggian 61 di  atas permukaan air laut. Desa Cikedokan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum (angkot) jurusan Cikedokan Setu. Lokasi Kampung Cikedokan memang agak terpencil dari kampung-kampung lainnya. Cikedokan, dikatakan berasal dari kata “Ci” yang artinya bening, dan “Kedok” berarti nyamar. Jadi Cikedokan mempunyai arti penyamaran, hal ini disebabkan karena leluhur yang datang ke Cikedokan adalah mereka-mereka yang sedang menyamar, karena dikejar-kejar Belanda.

IMG_20170903_074641

Saung Ranggon menurut narasumber, dibangun kira-kira pada abad-16, oleh Pangeran Rangga, putra Pangeran Jayakarta, yang datang dan kemudian menetap di daerah ini. Saung ini kemudian terkenal dengan sebutan Saung Ranggon, ditemukan oleh Raden Abbas tahun 1821. Dalam bahasa Sunda saung berarti saung/rumah yang berada di tengah ladang atau huma berfungsi sebagai tempat menunggu padi atau tanaman palawija lainnya yang sebentar lagi akan dipanen. Biasanya saung dibuat dengan ketinggian di atas ketinggian 3 atau 4 meter di atas permukaan tanah. Hal ini diperlukan untuk menjaga keselamatan bagi si penunggu dari gangguan hewan buas, seperti babi hutan, harimau dan binatang buas lainnya.

Pangeran Jayakarta merupakan tokoh dalam sejarah Betawi, khususnya Jakarta dan Bekasi pada masa kedatangan Belanda yang mencoba menanamkan kekuasaan atas daerah Jakarta dan Bekasi dan sekitarnya. Saung ini merupakan bagian dari basis perlawanan masyarakat Bekasi terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini diakui oleh masyarakat Bekasi, merupakan bangunan tertua di sekitar Cikarang Barat pada khususnya dan mungkin sekali di seluruh Bekasi. Saung Rangon berdiri di atas tanah seluas 500 m², dengan ukuran bangunan seluas 7,6 m x 7, 2 m dan tinggi bangunan dari permukaan tanah 2,5 m.

Bentuk Saung Ranggon adalah rumah panggung, menghadap ke arah selatan ditandai dengan penempatan tangga pintu utama dengan 7 buah anak tangga untuk masuk ke dalam rumah tersebut; bagian dalam Saung Ranggon hanya merupakan ruangan terbuka dan tanpa sekat pemisah antara ruangan, walaupun ada sebuah kamar; Bentuk atap Julang Ngapak (atap yang terdiri dari dua bidang miring) dengan penutupnya dari sirap kayu; dinding terbuat dari papan dan tidak mempunyai jendela, dan pada dinding terdapat bukaan selebar 30 cm yang ada di sebelah kiri dan kanan dengan cara dinding bawah agak masuk ke dalam, sedangkan dinding atas berada di luar menempel langsung pada langit-langit kemungkinan disengaja sebagai ventilasi, ada juga bagian dinding yang terbuat dari bilik(bambu), rangka dan tiang-tiang terbuat dari kayu, bagian bawah bangunan (kolong bangunan) terdapat tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang dibentuk menyerupai sumur (sekarang dibentuk lantai), Sedangkan sekeliling bangunan telah diberi pagar besi setinggi 1,20 m.

sumber : http://www.disparbud.jabarprov.go.id

Kali ini kami dari team ‘Ecek2 Bikers’ mencoba gowes menyusuri situs sejarah Bekasi ‘Saung Ranggon’. Seperti telah dijelaskan diatas, Saung Ranggon di dirikan pada abad 16 masa penjajahan kolonial belanda. Kalau dihitung sampai sekarang, Saung Ranggon berumur ± 400 tahun. Banyak masyarakat bekasi yang tidak mengetahui keberadaan situs sejarah ini, sehingga situs sejarah ratusan tahun sebagai saksi perjuangan pangeran Rangga melawan kolonial belanda ini terlihat sepi.

Tujuan kami kali ini ke ‘Saung Ranggon’, ingin menyusuri kembali semangat perjuangan yang dilakukan pengeran Rangga, perjuangan tanpa mengenal lelah melawan bangsa asing yang menjajah bangsa kita. Kalau kita putar balik sejarah ke abad 16, terasa sekali bagaimana penderitaan nenek moyang kita dahulu, kelaparan dan ketakutan oleh bangsa asing yang menindas bumi pertiwi ini. Tetapi generasi sekarang ini sudah terlena oleh jaman, sudah terlena dengan kemerdekaan yang di dapat dengan menumpahkan darah para pahlawan. Generasi yang mengidolakan sosok yang tidak pernah berjuang untuk mereka, terlena oleh sosok yang hanya mencari popularitas. Semoga dengan menyusuri sejarah masa lampau, para generasi muda sadar dan meneruskan perjuangan para pahlawan sehingga tidak ada lagi generasi muda atau penerus yang menjadi oknum pejabat yang menggerogoti uang negara yang seharusnya diperuntukkan untuk rakyat kecil. Generasi yang mempunyai kepedulian tinggi untuk membangun bangsanya. Ingat kawan ‘generasi penerus bangsa’, dahulu para pahlawan mengorbankan apa saja demi kemerdekaan bangsa ini, bahkan nyawa sekalipun. Sekarang kita hanya menjaga dan melanjutkannya.

Perjalanan diadakan pada tanggal 03 September 2017. dimulai pada jam 06.00 pagi dengan jumlah anggota 9 orang.

Gowes kami mulai dari PT Indofood CBP, dengan rute :

PT Indofood CBP –> Kawasan MM2100 –> PT JFE –> Saung Ranggon

Rute dibagi 2, disini kami singgah di spot bukit kecil dekat JFE steel.

  1. PT Indofood CBP –> PT JFE steel galvanizing
  2. PT JFE steel galvanizing –> Saung Ranggon

Rute 1. PT Indofood CBP –> PT JFE steel galvanizing

IMG_20170903_062832

Kami sengaja memutar sedikit ke arah PT JFE steel, karena di dekat kawasan itu terdapat bukit kecil sedikit tinggi yang bisa dijadikan ajang latihan downhill bagi pemula. Trek disini cukup bagus dan luas dengan tanah kering berwarna kecokelatan, tetapi disarankan untuk tidak melewati trek ini kala musim hujan tiba, tanah akan berlumpur dan becek.

IMG_20170903_071040

IMG_20170903_071454

IMG_20170903_071544IMG_20170903_071740

Cukup tinggi dan luas untuk mencoba trek downhill bukan ?

IMG_20170903_071900

Spot ini sangat direkomdasikan bagi teman-teman gowes di area cikarang dan sekitarnya yang ingin mencoba trek downhill, tetapi tidak terlalu jauh.

Setelah puas mencoba trek downhill, kami melanjutkan kembali perjalanan ke tujuan inti ‘Saung Ranggon’. Dari trek downhill atau PT JFE steel, tidak terlalu jauh, ke arah kanan melewati jembatan Setu-Cibarusah.

Rute 2. PT JFE steel galvanizing –> Saung Ranggon

IMG_20170903_073036

Dipertigaan kantor kepala desa Cikedokan dari arah Setu, kami ambil jalan ke arah kiri, tetapi kalau dari arah kawasan MM2100, ambil jalan lurus.

IMG_20170903_073850IMG_20170903_073901

Mendekati arah Saung Ranggon, terlihat iring-iringan mobil pengantin dengan barang bawaan yang biasanya diperuntukkan mempelai wanita. Adat atau kebiasaan masyarakat bekasi masih melekat di desa ini, setiap mobil pengantin pria selalu ramai di iringi kerabat dan tetangga terdekat, masyarakat bekasi menyebut tradisi ini dengan nama ‘Besanan’.

IMG_20170903_074005IMG_20170903_074032IMG_20170903_074034

Sekitar jam 8.43 pagi kami akhirnya sampai ke Saung Ranggon, terlihat sepi, mungkin karena masih pagi atau mungkin sehari-hari memang seperti ini keadaannya. Hanya terlihat beberapa penjaga sedang membersihkan daun-daun yang berserakan.

IMG_20170903_074338IMG_20170903_074352IMG_20170903_075320

Teh manis hangat tidak bisa kami dinikmati disini, belum ada warung yang buka, karena penjaganya belum ada yang datang, hanya terlihat etalase warung yang memajang teh poci dan beberapa mie instan yang jika diseduh pagi seperti ini terasa hangat diperut, tetapi apa daya, warung belum dibuka, kami terpaksa menahan lapar.

IMG_20170903_075637

IMG_20170903_083911

Kami sedikit berbincang dengan bapak yang tadi kami lihat sedang menyapu, bapak ini ternyata petugas disini. Menurut keterangan beliau, sejarah Saung Ranggon hampir sama seperti dengan yang sudah dijelaskan pemrov jabar melalui websitenya.

IMG_20170903_080601

Dokumentasi kami ambil secukupnya, untuk memperlihatkan bangunan Saung Ranggon dari depan, sisi dan belakang.

IMG_20170903_074541IMG_20170903_074713IMG_20170903_074649IMG_20170903_074734

Di sisi Saung Ranggon ada rumah makan khas sunda, jadi tidak perlu jauh-jauh mencari menu makan jika sedang berkunjung ke Saung Ranggon. Menu yang disajikan cukup menarik dan membangkitkan selera makan.

IMG_20170903_074352IMG_20170903_093723

Video dokumentar mengenai ‘Saung Ranggon’ :

Demikian sekilas sejarah mengenai ‘Saung Ranggon’, sejarah bekasi yang hampir dilupakan generasi muda saat ini. Sejarah bekasi yang masih bertahan sampai saat ini. Sejarah perjuangan bangsa indonesia melawan kolonial penjajah. Dengarlah pepatah berbicara ‘Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa dan perjuangan para pahlawannya’, jadi kami rasa situs sejarah ini perlu di lestarikan untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kita.

Saung Ranggon seperti mesin waktu yang akan membawa kita ke masa lampau, agar kita selalu mengingat perjuangan para pendahulu kita, mengingat kawan!!! bukan mengadakan ritual-ritual aneh yang tidak jelas, yang mengharapkan hal-hal yang semestinya kita bekerja keras untuk mendapatkannya. Hanya Allah tempat kita meminta, hanya Allah tempat kita berharap. Berusaha dan berdoa hanya kepada Allah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, ingat kawan!! kemerdekaan bangsa ini tidak dengan mudah kita dapat, pengorbanan para pahlawan kita lah yang membebaskan kita dari tangan penjajah. Semua perlu perjuangan dan pengorbanan, bukan di dapat secara tiba-tiba tanpa berusaha.

Cikarang 2017

Salam hangat dari sahabat ‘Ecek2 Bikers’

Written by 

One thought on “Menyusuri jejak sejarah Bekasi di ‘Saung Ranggon’”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *